Alasan kuat mengapa HRD harus bekerjasama dengan dunia digital

Oleh Nencor Panjaitan Rabu, 06 Juli 2016


Dunia konvensional sudah bertransformasi menjadi dunia digital. Ketika beberapa tahun silam, saya masih ingat membuat email pertama saya menggunakan Yahoo, dan dengan sombong mengajari teman - teman lainnya untuk menggunakan friendster, bermain dengan HTML dan CSS serta MySpace dan Reverbnation. Kini semuanya berubah.

Kehadiran Smartphone dengan sistem operasi Android yang didukung oleh raksasa Google, membuat semuanya berubah. Saya ingat pertama kali ayah saya menggunakan fasilitas 3G untuk melakukan Video Call secara realtime, ia pun dadah-dadah di  hadapan kamera depan Nokia 6680. Kemudian ia pun berceloteh

Ini aneh, kita bakal nemuin banyak orang ngomong sendiri di depan handphone.

Di dunia digital seperti sekarang, Video Call bisa dilakukan dengan mudah. Melakukan transmisi data berupa teks, audio (voice message), dan video (video call, conference call) serta berkirim-menerima file bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan di era digital seperti sekarang. Baik tua, maupun muda, apakah pria dan wanita, bocah ataupun orang dewasa, secara perlahan bergabung ke dalam dunia digital, sedikit demi sedikit familiar dengan kalimat "googling dulu laaah baru nanya?" dan media sosial.

 

Kehadiran Facebook, Twitter, Instagram, Path dan aplikasi smartphone lainnya seakan mengikat penggunanya dengan Smartphone mereka. Sesekali mengupdate status seraya mengupload foto favorit, hampir menjadi rutinitas yang sulit untuk dilepas dan ditinggalkan. Ini adalah sebuah era digital, perlahan, kita akan tersedot kedalamnya.

Namun pada artikel ini, saya akan membahas bagaimana era digital ini membantu pekerjaan HRD dalam melakukan filtrasi untuk Recruitment dan Staffing perusahaan.


Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa kita, dan seluruh pengguna smartphone ini merupakan produknya Google. Saya sangat ingin sekali membantah pernyataan ini, namun aku mah apa atuh, baru juga mau bantah, udah diingetin oleh puluhan produk google di Smartphone saya.

Kemudian saya kepikiran tentang hal ini,

  • Bagaimana jika HRD mendayagunakan media sosial untuk mengenali kandidat yang melamar suatu posisi atau jabatan di perusahaan ? 
  • Bagaimana jika lembaga Jobhunter mendayagunakan media sosial untuk menghubungi dan mencari tahu serta mengenali kandidat yang sedang mereka cari ?
  • Bagaimana jika HRD mendayagunakan media sosial untuk mencari tahu hobi dan kegemaran pegawai melalui media sosial ? 

Ini semua tentang Update dan Share bukan stalking. Update facebook lah, update twitter lah, update instagram lah, update path lah, dan lain sebagainya. Semuanya tersimpan di suatu tempat yang tidak diketahui, namun bisa diakses dengan mudah via Smartphone dan Internet. Penggunanya pun dapat dengan mudah berbagi update, share apapun, upload apapun, ke dalam dunia digital via Smartphone mereka. Sehingga saya rasa sudah waktunya HRD masuk ke dunia digital dan mengenali seluruh pegawainya.

Ketika CV mampu diolah-alih dan dimanipulasi serta direkayasan, bagaimana dengan dunia digital ?

Saya ingat sebuah quotes menarik tentang dunia digital :

Sekali anda telah melakukan posting ke dunia maya, anda tak mungkin menariknya kembali.

Dan memang ini sudah terjadi. Misalnya saja Sonya Depari, siswa SMA dari kota medan yang habis dibully netizen akibat keangkuhannya yang tertangkap video. atau bocah yang dicubit guru kemudian mengadu kepada sang ayah yang konon katanya TNI, menjadi samsak empuk bagi netizen untuk dijadikan bahan becandaan, meme, dan lain sebagainya. Candaan dan meme tersebut terjadi di internet, namun berpengaruh terhadap kehidupan target sebenarnya (real life, mentally).

HRD dapat melihat profil kandidat di facebook yang menghabiskan seisi waktunya berkomentar, berdebat isu SARA dalam page Jonru. HRD dapat melihat profil kandidat di twitter dengan keluhan serta sumpah serapah mereka dengan perusahaan lama mereka. Path yang selama ini kita kira private, tidak selamanya private. Saya bisa melihat update apa saja yang anda bagikan dalam Path sekalipun kita tidak berteman. Dan saya akan senang sekali berbagi tips dan tutorial ini kepada rekan - rekan pembaca.

Jadi, jika boleh saya simpulkan, era digital ini dapat dimanfaatkan oleh HRD dan siapapun untuk melakukan profiling kandidat secara efektif dan efisien, serta menjadi pertimbangan penting lain selain CV, Psikotes, dan tes rekrutmen lainnya dalam menilai kandidat.

Alasan kuat lain mengapa HRD harus bekejasama dengan digital ialah karena digital itu terkomputerisasi. Kita harus mengerti internet, membuka email, mengerti mengoperasikan komputer, gadget, teknologi, dan lain sebagainya.Kita akan dipaksa untuk adapatasi dengan dunia digital ini.

Ketika puluhan tahun lalu posisi Sales / Marketing Executive memiliki jobdesk yang sama, di era digital ini, semuanya berubah. Persyaratan :
  • Mampu mengoperasikan media sosial
  • Mampu mengoperasikan smartphone dan internet
Kini sudah menjadi persyaratan wajib untuk menjadi Sales / Marketing Executive. The good thing is, we have to evolve to survive.

Jadi, sudah siapkah anda masuk dan menjadi bagian dari dunia digital ?


Nencor Panjaitan

Saya nencor panjaitan, seseorang yang menyukai teknologi, internet, digital, serta media sosial juga sedikit stalking.

2 komentar to '' Alasan kuat mengapa HRD harus bekerjasama dengan dunia digital "

ADD COMMENT
  1. Hi Nencor. Saya setuju dengan artikelnya Bro. Ada beberapa permasalahan yang saya temui di dunia nyata ketika merekrut pegawai. Saya berusaha untuk cek en ricek dari social medianya. Biasanya kandidat yang berumur dibawah 30 tahun begitu aktif di medsos, namun belum tentu punya LinkedIn. Sedangkan yang berusia 32 tahun keatas, secara CV dan wawancara OK. Namun medsosnya di lock atau bisa dilihat namun nggak terlalu aktif. Ketika saya minta sedikit info dari eks HRD nya di kantor lama, tidak akan diberi info apapun karena dianggap surat referensi kerja sudah cukup. Namun ketika direkrut...hanya karena sedikit masalah saja dengan manajemen yang sebetulnya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik, malah tidak dipergunakan. Untuk level pekerjaannya saya tidak ambilkan psikotes karena budget jasa perekrutan dari employer juga minim. Ya begitulah kami kecolongan disaat sudah merekrut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Gabriella,

      Terima kasih sudah mampir.
      Itu sebabnya mengapa digital dan internet dapat memperbaiki kualitas profiling HRD.

      Adapun keuntungan lainnya ialah, dunia digital sedang berkembang, dan mari menjadi bagian dari perkembangannya :D

      Salam

      Hapus

Berikan komentar :